PENGUASAAN KOSAKATA ANTARA BAHASA SUNDA, BAHASA INDONESIA DAN BAHASA BETAWI PADA PESERTA DIDIK
Manusia dan bahasa sudah pasti tak dapat dipisahkan sampai kapan pun. Bahasa lahir dari dalam benak manusia yang senantiasa selalu bereaksi, berkomunikasi untuk menciptakan ragam keilmiahan.

By Susan Susanti, S.Pd. 09 Jan 2019, 07:49:20 WIB Bahasa
Manusia lahir di dunia disertai dengan bahasa sebagai salah satu keunggulan dari makhluk lainnya yang diciptakan tuhan. Sehingga bahasa menjadi salah satu ciri keistimewaan manusia. Bahasa dalam konteks kemanusiaan pada hakikatnya merupakan sesuatu yang mulia karena apabila manusia tanpa dibekali bahasa tak mungkin dapat melakukan kreativitas-kreativitas yang sangat berguna. Posisinya pun menjadi sangat sentral dalam kehidupan dari masa ke masa. Manusia dan bahasa sudah pasti tak dapat dipisahkan sampai kapan pun. Bahasa lahir dari dalam benak manusia yang senantiasa selalu bereaksi, berkomunikasi untuk menciptakan ragam keilmiahan. Dengan demikian berarti penguasaan terhadap kosakata bahasa mulai diterima dan diperdengarkan sejak manusia itu dilahirkan. Kosakata yang diterimapun sesuai dengan bahasa daerah dimana dia dilahirkan. Melihat hal tersebut maka diperlukan bahasa persatuan yang akhirnya dituliskan dan dijanjikan dalam naskah sumpah pemuda yang dibacakan oleh para pemuda indonesia. Bahasa Indonesia sebagai lingua franca menjadi satu-satunya media pemersatu antarsuku yang ada di negeri ini. Keberhasilan bahasa Indonesia terbukti dalam mempersatukan bangsa Indonesia sehingga mencapai kemerdekaan pada tahun 1945 untuk pembinaan bahasa Indonesia pemerintah menetapkan bahwa bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran wajib bagi siswa dari mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Begitu juga yang terjadi pada bahasa Sunda sebagai bahasa suku Sunda dan cagar budaya yang sangat berharga. Untuk itu selayaknya dipertahankan dari kepunahan Bahasa Sunda digunakan untuk komunikasi dengan masyarakat di lingkungan dan bahasa Indonesia digunakan untuk keperluan komunikasi dengan pihak perusahaan. Situasi seperti ini akan berdampak terhadap kemampuan menggunakan bahasa sebagai dwibahasawan. Begitu juga yang terjadi pada anak-anak selain menggunakan bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran juga digunakan ketika terdapat anak pendatang. Sehingga dapat disimpulkan bahawa anak usia SMP telah menjadi seorang bilingual atau dwibahasawan Selain itu jika merujuk pada pendapat Lambert dalam Brown (2008: 77) bahwa anak bilingual lebih mudah menangkap pembentuk konsep dan memiliki keluwesan mental yang lebih besar. Artinya anak bilingual lebih siap dalam menghadapi pelajaran dalam mencapai kemampuan kognitif dan kemampuan afektif Selain itu bahasa Betawi merupakan bahasa sehari-hari suku asli ibu kota negara Indonesia yaitu Jakarta. Bahasa ini mempunyai banyak kesamaan dengan Bahasa resmi Indonesia yaitu Bahasa Indonesia. Bahasa Betawi merupakan salah satu anak Bahasa Melayu, banyak istilah Melayu Sumatra ataupun Melayu Malaysia yang digunakan dalam Bahasa Betawi, seperti kata “niari” untuk hari ini. Persamaan dengan bahasa-bahasa lain di Pulau Jawa, walaupun ada bermacam-macam Bahasa, seperti Bahasa Betawi, Bahasa Sunda, Bahasa Jawa, Bahasa Madura, tetapi hanya Bahasa Betawi yang bersumber kepada Bahasa Melayu seperti halnya Bahasa Indonesia. Pada umunya masyarakat Indonesia adalah masyarakat bilingual. Artinya bahasa daerah merupakan bahasa pertama (B1) dan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua (B2) (Iskanadarwassid & Sunendar, 2008:78, Ohoiwutun, 2002: 115). Namun yang menjadi permasalahan sekarang mengapa B1 dan B2 harus dipelajari dari tingkat SD sampai dengan PT. Terdapat banyak alasan mendasar antara lain sebagai pemertahanan bahasa dari segala gempuran asing yang kian hari kian menusuk, anak Indonesia agar lebih menghargai budaya sendiri dan jika dibiarkan ada kemungkinan mengalami kepunahan terutama pada bahasa daerah; kemudian secara tidak langsung para pengguna bahasa di masyarakat sebagian besar hanya mengetahui atau paham kompetensi komunikasinya, namun dari sisi teoretis sangat jauh dari konteks pemahaman. Hal ini dilakukan agar pengguna bahasa tak hanya performansi dan kompetensi yang dikuasai tetapi teori bahasanya juga. Selanjutnya di bawah ini akan dikupas pembelajaran bahasa daerah dan pembelajaran bahasa Indonesia. Indonesia adalah bangsa yang kaya akan bahasa daerah. Jumlah yang dihimpun oleh Summer Institute of Linguistics (SIL) tahun 2006 bahasa daerah mencapai 741 bahasa. jumlah ini menunjukkan betapa besar dan kayanya bangsa Indonesia. Sejalan dengan perkembangan dunia tak menutup kemungkinan jumlah bahasa tersebut akan tergerus menurun dengan berkurangnya jumlah penutur dan pengembangan pembelajaran yang maksimal akan bahasa daerah tersebut, dengan beberapa permasalahan yang dialami khususnya pada peserta didik yang masing-masing memiliki bahasa Ibu. Satu hal yang menjadi tanggung jawab besar buat guru Bahasa Sunda yang berada diwilayah perbatasan untuk dapat mengajarkan penggunaan dalam penguasaan kosakata bahasa sunda secara maksimal dengan tidak menghilangkan bahasa ibu dan bahasa persatuan.


Kepala Sekolah

Kepala Sekolah
H.M. Rasid, M.Pd
Baca Sambutan

Link Terkait