SENI SUNDA TRADISIONAL
Kepekaan generasi sekarang terhadap budaya hilang akibat pengaruh orang tua yang tidak mengajarkan nilai-nilai tradisi dari budayanya sehingga generasi sekarang tidak mengetahui nilai besar apa yang terkandung dari budaya sunda.

By Susan Susanti, S.Pd. 08 Feb 2019, 12:36:53 WIB Bahasa

Tradisi atau kebiasaan adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.

Pengertian lain dari tradisi adalah segala sesuatu yang diwariskan atau disalurkan dari masa lalu ke masa saat ini atau sekarang. Tradisi dalam arti yang sempit yaitu suatu warisan-warisan sosial khusus yang memenuhi syarat saja yakni yang tetap bertahan hidup di masa kini, yang masih tetap kuat ikatannya dengan kehidupan masa kini.

Sedangkan tradisi sunda merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat sunda dari dahulu dan masih terasa keberadaannya hingga saat ini, akan tetapi tradisi sunda sekarang ini telah banyak ditinggalkan nilai-nilai kebudayaanya. Oleh karena itu banyak pemuda sunda yang telah salah jalan dalam kehidupannya. Namun tidak semua generasi muda menyadari pentingnya memelihara nilai tradisi dari sisi kebudayaan sunda.  Menjaga nilai budaya sangat identik dengan perkembangan kesenian yang sangat berkaitan erat terhadap perkembangannya. Perkembangan budaya pun sangat dipengaruhi juga dengan generasi muda yang menjadi agen perkembangannya.

Generasi muda yang saat ini dikenal dengan istilah Generasi milenial merupakan orang-orang yang lahir dari tahun 1980 an - 2000 an, yang saat ini berusia 15-34 tahun, dapat diartikan generasi milenial itu sebagian besar adalah para remaja saat ini. Di era milenial seperti saat ini banyak sekali pembaharuan yang terjadi dari segala bidang kehidupan. Era modern, era teknologi, era digital, begitu generasi milenial menyebutnya. Namun dampak dari era milenial sendiri cukup menjadi persoalan, akibat hal tersebut banyak terjadi pergeseran nilai, keagamaan, politik, bahasa, ekonomi, dan budaya.

Saat ini sangat sulit mejaga nilai nilai tradisi yang ada karena pengaruh modernisasi yang sangat cepat penyebarannya. Yang sangat dikhawatirkan saat ini adalah generasi mudanya pun tidak mengetahui nilai nilai budaya yang banyak mengandung pola tatanan kehidupan yang bisa menjaga keberlangsungan kehidupan dengan sejahtera.

Jika melihat nilai nilai tradisi dari kebudayaan sunda sangat besar pengaruhnya terhadap pembangunan karakteristik generasi muda yang senantisa mengamalkan salah satu filosofi sunda yaitu “silih asah silih asih dan silih asuh”. Nilai besar yang terkandung dari filosofi tersebut dapat menjadi salah satu pedoman kehidupan generasi muda yang saling mengayomi menjaga dan merawat segala hal ada dihadapannya. Jika karakteristik yang dibangun dari pola kebudayaan maka akan terbentuklah suatu generasi yang mampu membangun bangsa dengan mengamalkan nilai-nilai tradisi yang mampu mempersatukan bangsa.

Kepekaan generasi sekarang terhadap budaya hilang akibat pengaruh orang tua yang tidak mengajarkan nilai-nilai tradisi dari budayanya sehingga generasi sekarang tidak mengetahui nilai besar apa yang terkandung dari budaya sunda.

 

Memang dalam perkembangannya budaya sunda telah jauh ditinggalkan oleh para generasi muda, karena terkesan kuno kampungan dan lainnya. Padahal hal yang dianggap kuno dan kampungan tersebutlah yang bisa menopang pola tatanan kehidupan yang bisa membangun karakteristik bangsa yang dapat diandalkan. Budaya sunda memang untuk saat ini sudah menunjukan perkembangannya dengan diangkatnya ranah kesenian tradisi.

Diantara tradisi sunda yang harus dilestarikan keberadaannya adalah :

  1. Sisingaan atau Odong – Odong

Kesenian sisingaan atau beberapa orang menyebutnya dengan nama singa depok, kuda depok, citot, gotong singa dan juga odong-odong adalah kesenian khas daerah Subang, Jawa Barat. Sisingaan dililhami dari kesenian reog Ponorogo.

Kesenian yang juga merupakan lambang perlawanan masyarakat terhadap VOC ini, terdiri dari 8 orang pengusung sisingaan, 2 sisingaan,  penunggang sisingaan, pengiring musik dan juru kawih.

Secara filosofis 8 orang pengusung ini melambangkan rakyat pribumi yang terjajah dan tertindas, sedangkan sepasang singa melambangkan Belanda dan Inggris (VOC) yang menjajah Indonesia, Nah, penunggang sisingaan yang biasanya anak-anak melambangkan generasi muda yang nantinya harus mampu menunggangi dan mengusir para penjajah dari bumi Nusantara.

Dahulu, para penjajah tidak tahu filosofi ini. Malah justru bangga lambang negara mereka di jadikan kesenian. Para penjajah hanya memahami bahwa kesenian ini hanyalah hiburan rakyat pada saat khitanan anak.

  1. Kesenian Tradisional Jawa Barat : Wayang Golek

Wayang yang umumnya dibuat dari kayu albasiah ini, Selain digunakan sebagai media hiburan, Wayang golek juga sering digunakan sebagai media dakwah. Ketika pementasan biasanya sang dalang menyisipkan pesan-pesan agama.

Cerita yang dibawakan ketika pertunjukan wayang golek juga sama dengan wayang kulit yang mengambil dari cerita Ramayana dan Mahabarata, hanya saja bahasa dan tokoh punakawan berbeda. Alur cerita wayang bersifat mendidik, kritik dan diselingi humor.

  1. Kesenian Tradisional Sunda : Kuda Renggong

Kuda renggong kesenian tradisional sunda yang berasal dari kota Sumedang, Kuda yang telah terlatih akan menari mengikuti irama musik yang dilantunkan, terutama kendang. Kesenian ini biasanya dipentaskan dalam arak-arakan hajatan sunat.

 

Kuda yang dipakai untuk kesenian Kuda renggong bentuknya tegap dan kuat. Kuda dihiasi dengan aksesoris-aksesoris yang meriah dan kemudian diarak diiringi oleh musik pengiring dan para penari.

Kuda renggong menjadi pertunjukan khas Sumedang Jawa Barat, setiap tahun pemerintah mengadakan festival kuda renggong yang menjadi daya tarik wisata nasional maupun Internasional.

d. Kesenian Tradisional Tarawangsa (Jentreng Tarawangsa)

Kesenian Jenreng Tarawangsa atau Tarawangsa (saja) biasanya dipentaskan pada acara syukuran tradisional, seperti, Ngaruat, Ngalaksa, Ngarosulkeun, Buku Taun, Panenan atau Pada acara syukuran seperti Pernikahan dan Sunatan.

Perpaduan alat musik jentreng dan tarawangsa yang khas. Menghasilkan suara yang klasik dan sekilas terdengar Mistis.  Kesenian ini terdapat dibeberapa daerah Sunda, seperti, Rancakalong (Sumedang), Tasikmalaya Selatan, Kanekes (Banten) dan Banjaran

Itulah sedikit dari banyaknya tradisi sunda yang jika tidak dilestarikan oleh generasi milenial di era industri 4.0, maka dengan sendirinya akan terhapus. Untuk itulah perlu Membangun mental bangsa dalam mempertahankan nilai bahasa dan budaya sunda dapat dilakukan dengan cara :

a. Membangun kesadaran yang tinggi

Kesadaran dari setiap individu untuk tau betapa pentingnya nilai bahasa dan budaya lokal yang sudah mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Sehingga jumlah kekayaan indonesia berupa kultur terjadi penurunan, karena beberapa bahasa dan budaya lokal telah hilang dan bahkan sebagian orang tidak pernah tau akan keberadaannya.

b. Bangga ber-Indonesia

Sikap bangga menjadi bagian dari bangsa indonesia dapat memberikan semangat untuk tetap melestarikan bahasa dan budaya lokal. Bangga akan beragamnya bahasa, budaya, suku, ras, agama dan keberagaman lainnya yang harus dijadikan sebagai penguat dalam keberagaman ini.

  1. Menumbuhkan rasa Cinta tanah air.

Menumbuhkan rasa Cinta tanah air dengan memperkenalkan pada generasi muda bahwa kita harus bangga jadi Indonesia, karena apa? Indonesia adalah Negara yang bukan hanya memiliki kekayaan alam yang luar biasa melimpah tetapi juga kekayaan bahasa dan budaya lokal yang beragam. Rasa Cinta pada bangsa sangat penting bagi mental anak bangsa, karena jika dalam dirinya telah ada rasa cinta dan bangga akan bangsanya maka ia tidak akan melupakan sejarah dan kebudayaan bangsanya.

  1. Memberi pendidikan dan penyuluhan tentang bahasa dan budaya sunda

Dalam hal ini peran lembaga pendidikan sangat dibutuhkan untuk menciptakan generasi milenial yang tidak melupakan kebudayaannya. Dalam setiap jenjang pendidikan terdapat mata pelajaran yang bermuatan lokal (mulok) seperti untuk di Jawa Tengah dan Jawa Timur berupa bahasa Jawa, dan untuk di Jawa Barat berupa bahasa Sunda, dan untuk wilayah-wilayah Indonesia lainnya juga pasti ada pendidikan muatan lokal, baik berupa bahasa ataupun budaya dari daerah tersebut. Hal-hal yang semacam ini merupakan bentuk upaya pemerintah untuk mempertahankan nilai bahasa dan budaya sunda yang telah mulai luntur dikalangan generasi muda.

  1. Menggunakan sosial media secara bijak

Di era yang serba digital bukan tidak mungkin jika semua orang telah mempunyai sedikitnya 3 akun sosial media baik itu facebook, instagram, twitter, path, line, whatapps dan lain sebagainya. Dengan demikian informasi yang didapat tidak lagi ada batasan, semua orang bebas mengakses secara gratis. Namun pada kenyataannya sosial media belum digunakan secara bijak, terbukti dengan maraknya kasus-kasus yang bermula dari sosial media, yang terbaru adalah kasus maraknya berita hoax. Berita-berita yng yang belum tentu kebenarannya atau bahkan mungkin tidak benar dengan mudahnya tersebar melalui media sosial utamanya. Hal tersebut mengakibatkan adanya kesalahpahaman antara individu atau kelompok yang bersangkutan. Oleh karena itu, jika berita yang diterima dirasa ragu akan kebenarannya maka alangkah lebih baiknya jika tidak dibagikan terlebih dahulu, untuk menghindari konflik yang bermula dari sosial media. Dengan demikian penggunaan media sosial secara bijak adalah salah satu bentuk atau upaya dalam mempertahankan bahasa dan budaya sunda.

  1. Pengelolaan kebudayaan

Pengeloaan budaya dilaksanakan dengan tujuan utama untuk melestarikan bahasa dan budaya sunda. Pengelolaan kebudayaan meliputi perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pendokumentasian. Perlindungan kebudayaan merupakan tindakan melestarikan, merawat, dan mempertahankan nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan lokal. Pengembangan, dalam hal ini pengembangan bertujuan untuk melangkah kearah yang lebih baik lagi, artinya kebudayaan lokal menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luas, kebudayaan dapat diterima dikalangan generasi milenial. Pemanfaatan, kebudayaan yang ada dapat dimanfaatkan salah satunya adalah dijadikan sebagai objek wisata, hal tersebut terbukti dengan banyaknya wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang untuk menyaksikan kekayaan budaya sunda. Hal tersebut berdampak pada meningkatnya pendapatan Negara. Pendokumentasian, hal ini sangat diperlukan mengingat kejadian yang baru saja terjadi yaitu kesenian reog diklaim oleh Negara asing padahal jelas bahwa reog adalah kesenian asli Indonesia. Untuk menghindari hal tersebut pendokumentasian sangat diperlukan, bukan hanya berupa foto ataupun video melainkan berupa hitam diatas putih bahwa kesenian tersebut adalah milik Indonesia (semacam surat / akta kepemilikan).

Dengan demikian pentingnya mempertahankan nilai tradisi dan budaya sunda menjadi sesuatu yang sangat krusial. Bukan hanya dampak jangka pendek yang menjadi masalah melainkan dampak dikemudian harinya yang akan sangat disayangkan jika hal tersebut sampai terjadi. Tradisi sunda merupakan warisan kekayaan bangsa, yang secara alami telah menjadi identitas bangsa Indonesia. Pentingnya mempertahankan nilai bahasa dan budaya sunda adalah salah satu upaya yang dilakukan dengan tujuan melestarikan warisan kekayaan bangsa Indonesia. Nilai kultural yang telah mulai luntur dikalangan milenials sangat disayangkan, seharusnya di era globalisasi ini justru menjadi momen strategis untuk memperkenalkan bahasa dan budaya sunda pada dunia. Menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai beragam bahasa dan budaya lokal yang sangat Bagus dan unik, sehingga dapat menarik wisatawan lokal maupun mancanegara untuk datang ke Indonesia, yang tentunya dengan meningkatnya wisatawan yang berkunjung ke Indonesia dapat menambah pendapatan Negara. Tetapi pada kenyataannya justru sebaliknya, bahasa dan budaya sunda mulai ditinggalkan akibat pengaruh-pengaruh kebudayaan luar.

Oleh karena itu banggalah terhadap warisan bahasa dan budaya sunda, karena tidak ada satupun negara yang mempunyai beragam bahasa dan budaya lokal yang berbeda ini. Generasi milenial adalah generasi modern yang harus dapat mengubah hal-hal negatif menjadi positif, dan mempertahankan sesuatu yang baik. Wujudkan generasi milenial yang cinta dan bangga pada Indonesia dengan segala kekayaan bahasa dan budaya lokalnya.




Kepala Sekolah

Kepala Sekolah
H.M. Rasid, M.Pd
Baca Sambutan

Artikel Terpopuler

Link Terkait