Nganteuran, Tradisi Lebaran ala Masyarakat Sunda yang Mulai Tergerus Zaman

By Susan Susanti, S.Pd. 21 Mei 2021, 00:00:59 WIB Bahasa
Nganteuran, Tradisi Lebaran ala Masyarakat Sunda yang Mulai Tergerus Zaman

Hari Raya Idul Fitri merupakan momen yang sangat ditunggu oleh setiap umat muslim. Salah satu yang wajib dilakukan pada saat Lebaran adal

Hari Raya Idul Fitri merupakan momen yang sangat ditunggu oleh setiap umat muslim. Salah satu yang wajib dilakukan pada saat Lebaran adalah tradisi silaturahmi yang dilaksanakan saat hari kemenangan tiba.

Di Jawa Barat terdapat tradisi unik yang selalu dilaksanakan saat Hari Raya Idul Fitri, yaitu tradisi Ngateuran. Tradisi ini dilakukan dengan saling bertukar makanan menggunakan sebuah rantang yang berisi makanan khas Lebaran sebagai upaya untuk mempererat tali persaudaraan dan saling menghormati antar sesama.

Dalam Bahasa sunda, nganteuran berarti mengantarkan. Ini tak lain diambil dari aktivitasnya dimana orang mengantarkan makanan hasil masakan dapurnya kepada tetangga terdekatnya Tradisi tersebut telah berlangsung secara turun temurun di wilayah Jawa Barat bagian selatan seperti wilayah Bandung, Pangandaran, Tasikmalaya, hingga Garut.

Dalam tradisi Nganteuran, yang lazim diantar adalah makanan khas Lebaran seperti ketupat, sambal goreng kentang, opor ayam, beragam jenis kue kering, kopi instan, dan beberapa bungkus rokok yang merupakan kegemaran para orang tua di sana.

Tetapi sangat disayangkan, tradisi ini setiap tahun semakin hilang, karena kurangnya kesadaran warga dan banyaknya pendatang baru di daerah tersebut yang tidak memahami atau tidak mengetahui budaya setempat sehingga tradisi tersebut jika tidak terus dilestarikan oleh penduduk setempat maka akan semakin menghilang.

Kegiatan berbagi makanan menjadi satu hal yang ditunggu-tunggu di akhir Ramadan untuk menyambut datangnya hari raya idulfitiri di esok hari, warga masyarakat berlalu lalang dari satu rumah ke rumah lain, saling sapa dengan tersenyum.

Sampai menjelang malam hari, terkadang masih ada warga yang memberi hantaran atau mengunjungi rumah saudara untu bersilaturahmi. Anak-anak kecil ikut memeriahkan dengan menyalakan petasan atau kembang api yang beradu dengan suara pukulan bedug dan arak-arakan warga untuk mengumandangkan takbir.

Selain itu, tradisi ini juga dilakukan sebagai upaya atau bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT. karena telah memberi kesempatan untuk menyelesaikan ibadah di bulan Ramadan. Makanan yang diberikan juga dilakukan agar warga yang tak bisa merayakan lebaran dengan hidangan istimewa karena adanya kendala dalam faktor ekonomi atau lainnya dan tak bisa membeli kebutuhan pangan sehingga dapat merasakan makanan yang sama di hari lebaran.

Meskipun lelah karena telah memasak dan menyiapkan makanan untuk nganteuran, tetapi ada perasaan bahagia dari mereka yang bisa berbagi dengan orang lain, di situlah letak kenikmatan atas jerih payah yang telah dilakukan. Apalagi di tengah pandemi seperti lebaran tahun ini. Dimana masalah ekonomi menjadi faktor utama, masyarakat sulit untuk membeli kebutuhan hari raya sehingga tidak bisa menikmati hari raya seperti tahun-tahun sebelumnya.

 

 

ah tradisi silaturahmi yang dilaksanakan saat hari kemenangan tiba.

Di Jawa Barat terdapat tradisi unik yang selalu dilaksanakan saat Hari Raya Idul Fitri, yaitu tradisi Ngateuran. Tradisi ini dilakukan dengan saling bertukar makanan menggunakan sebuah rantang yang berisi makanan khas Lebaran sebagai upaya untuk mempererat tali persaudaraan dan saling menghormati antar sesama.

Tradisi tersebut telah berlangsung secara turun temurun di wilayah Jawa Barat bagian selatan seperti wilayah Bandung, Pangandaran, Tasikmalaya, hingga Garut.

Dalam tradisi Nganteuran, yang lazim diantar adalah makanan khas Lebaran seperti ketupat, sambal goreng kentang, opor ayam, beragam jenis kue kering, kopi instan, dan beberapa bungkus rokok yang merupakan kegemaran para orang tua di sana.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment