• Susan Susanti, S.Pd.
  • Bahasa
  • 2020-09-17 14:13:31
FAKTA MENARIK TENTANG SUKU SUNDA

Suku Sunda dikenal dengan Tatar Pasundan meliputi wilayah bagian barat pulau Jawa dimana sebagian besar wilayahnya masuk provinsi Jawa Barat dan Banten. Berasal dari akar kata sund atau suddha dalam bahasa Sanskerta yang berarti bersinar, terang dan putih. (Williams, 1872:1128, Eringa, 1949:289). Sejarah Sunda mengalami babak baru karena arah pesisir utara di Jayakarta (Batavia) masuk kekuasaan kompeni Belanda sejak (1610) dan dari arah pedalaman sebelah timur masuk kekuasaan Mataram (sejak 1625).Karakter masyarakat sunda sudah dijalankan sejak zaman kerajaan. Suku Sunda lumayan terkenal dan banyak ciri khas yang dimiliki oleh suku Sunda ini. Jika orang mendengar istilah-istilah yang akan dijelaskan dibawah ini mereka pasti langsung bisa menebak bahwa itu dimiliki oleh Suku Sunda.

1. Tari Jaipong yang Populer

Ketika masyarakat perkotaan lebih menikmati tari modern seperti boyband dan girlband masyarakat suku Sunda sangat memegang erat budaya yang sudah turun temurun dari nenek moyang. Salah satunya tari Jaipong yang sangat terkenal di penjuru nusantara. Tari Jaipong ini lebih sering dijumpai saat acara besar.

Tari Jaipong pun turut dipertontonkan di mancanegara. Ciri gerakan yang lincah dan bunyi khas gendangnya membuat tari ini disukai banyak orang. Tarian ini pernah dibawakan di Irak untuk tampil dalam Festival Internasional Babylon.

2. Dikenal Istilah “Pamali” atau Larangan

Pamali bisa diartikan sebagai pantangan dari hal-hal yang menurut tradisi tak boleh dilakukan dengan cara sengaja. Jika hal tersebut dilakukan akan menyebabkan datangnya malapetaka atau kejadian tidak baik bagi yang melanggar. Di Sunda dikenal pula kalimat ceuk kolot baheula mah (kata orang dahulu mah) yang biasa mendahului kalimat larangan. Di sisi lain, sebagian masyarakat menggunakan kata pamali sebagai cara menakut-nakuti anak kecil. Pada zaman dahulu hal ini dilakukan supaya mereka tidak berani menentang perintah orang tua. Sebagai contoh : Ulah kaluar imah sareupna yang bermakna jangan keluar rumah saat menjelang malam atau magrib. Mitosnya berupa bisa diculik setan. Pandangan tersebut sebenarnya juga diajarkan dalam agama Islam untuk menahan anak-anak di waktu magrib karena saat itu setan-setan berkeliaran dan anak-anak dianggap mudah untuk dirasuki. Jika sesaat malam sudah berlalu maka anak-anak baru boleh dilepas.

Masyarakat sunda dahulu pun dikenal erat memegang kewajiban dalam agama Islam khususnya. Bahwa saat magrib, anak-anak lebih baik melakukan aktivitas ibadah seperti salat magrib berjama’ah maupun baca tulis Al-Qur’an di musala.

3. Aksara Sunda

Masyarakat suku Sunda sudah mengenal aksara ini sejak abad ke-14 untuk menuliskan bahasa yang digunakan. Disebut juga aksara Ngalagena dan menjadi salah satu peninggalan budaya yang sangat berharga.

Bukti peninggalan sejarah aksara sunda ini ditemukan pada Prasasti Kawali (Prasasti Astana Gede) yang dibuat untuk mengenang Prabu Niskala Wastukencana yang memerintah di Kawali, Ciamis pada 1371-1475.

Namun seiring berkembangnya waktu aksara sunda mulai sedikit diketahui anak zaman modern. Tapi kabar baiknya, masih ada masyarakat yang bersedia menjaga ciri khas suku Sunda dengan memperkenalkan aksara tersebut lewat internet maupun mengajar secara langsung.

4. “Si Cepot” Yang Mendunia

Siapa yang tidak mengenal sebutan Si Cepot? Ya, dia adalah sosok paling populer di dunia Wayang Golek. Berasal dari Tanah Pasundan dan menyebar mulai dari daerah Cirebon hingga wilayah Banten. Pertunjukannya memakai boneka kayu sebagai properti. Kata golek memiliki dua makna yaitu kata kerja berarti mencari dan kata benda berarti boneka kayu.

Pada umumnya, pola pagelaran menggunakan alur cerita pewayangan seperti cerita Ramayana dan Mahabharata dengan menggunakan bahasa Sunda. Maestro Wayang Golek, Alm. Asep Sunarya merupakan master wayang golek. Beliau amat terampil memainkan pewayangan beserta olah vokal yang disuarakan. Si Cepot pernah beraksi di Amerika dan beberapa negara Asia termasuk ASEAN. Sehingga namanya melanglang buana dikenal masyarakat luar negeri. Hal ini pun sekaligus memperkenalkan kekayaan Indonesia melalui kesenian suku Sunda.

Setiap suku memiliki beragam sejarah hingga kebudayaan yang menakjubkan. Oleh karena itu, tentu berkaitan erat dengan bagaimana masyarakat menjaga persatuan agar tidak berpecah belah. Hal tersebut dapat dengan cara melestarikan budaya setiap suku. Saling menghormati maupun saling menghargai seperti halnya yang diterapkan di suku Sunda dalam membangun hubungan kekerabatan antar sesama manusia. Tatar Pasundan yang mengedepankan “silih asih, silih asah, dan silih asuh” memiliki makna harus saling mengasihi, saling mengasah atau mengajari dan saling mengasuh.

Add comment

Jl. Kali Abang Tengah, Perwira, Kec. Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jawa Barat 17122

Email : admin@smktarunabangsa.sch.id

Pengumuman

Kategori Berita

© 2021 SMK Taruna Bangsa Kota Bekasi. All Rights Reserved.