• Edi Junaedi, S.Pd.I
  • Agama
  • 2021-05-20 07:40:44
Makna Idul Fitri

ADAB DAN MAKNA 'IDUL FITRI

Hari Raya Idul Fitri menjadi hari yang dinanti-nantikan umat Muslim di seluruh dunia. Terlebih, setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Agar perayaan Idul Fitri semakin bermakna, ada baiknya meniru apa yang dilakukan dan diperintahkan Rasulullah SAW di hari raya ini. Syekh Abdul Azis bin Fathi As-Sayyid Nada dalam Kitab Mausuu'atul Aadaab Al-Islaamiyyah, membantu menjelaskan adab merayakan hari raya sesuai yang dilakukan Rasulullah SAW.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membaca niat dengan baik dan benar. Syekh Sayyid Nada menuliskan, wajib bagi Muslim menghadirkan niat yang benar dalam segala perkara berkaitan dengan hari raya. Salah satunya berniat ketika keluar rumah untuk sholat demi mengikuti jejak Nabi SAW.

Berikutnya, sebelum melaksanakan hari raya, setiap umat wajib membersihkan diri dan mandi. Saat berkumpul sesama umat Muslim, kondisi diri salam keadaan bersih dan wangi. Diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA dalam HR Malik di kitab al-Muwaththa, ia mandi pada hari raya Idul Fitri, sebelum berangkat ke tempat sholat.

Setelah niat dan membersihkan diri, maka umat Muslim diminta memakai wewangian. Ali bin Abi Thalib berkata, "Rasulullah SAW memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang kami punya, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang kami punya, dan berkurban dengan hewan yang paling mahal yang kami punya".

Selanjutnya, umat Muslim dianjurkan menggunakan pakaian terbaik. Jika ia merupakan seorang yang mampu, maka disunnahkan memakai pakaian baru di Hari Raya Idul Fitri. Hal itu menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT dan menunjukkan kegembiraan pada hari raya. 

Hadits riwayat Jabir bin Abdillah menyebutkan, Nabi SAW memiliki jubah yang beliau gunakan ketika hari raya dan hari Jumat. Dalam HR Al-Baihaki juga disebut, Ibnu Umar RA memakai pakaian terbaiknya pada kedua hari raya.

Sebelum berangkat menuju tempat sholat, seorang umat diminta makan terlebih dahulu. Adapun lebih baik bila ia memakan kurma sebelum berangkat dari rumah.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah SAW sebelum berangkat sholat pada hari raya Idul Fitri memakan kurma terlebih dahulu. HR Tirmidzi juga menyebutkan, Nabi SAW tak berangkat sholat Idul Fitri kecuali setelah makan, sedangkan beliau tidak makan pada hari raya Idul Adha, kecuali setelah pulang dan makan dari hewan kurbannya.

Anas bin Malik meriwayatkan, Nabi SAW tidak berangkat ke lapangan untuk sholathari raya Idul Fitri sebelum makan beberapa kurma. Rasul SAW memakannya dalam hitungan ganjil, yakni tiga, atau lima, atau seterusnya bila ingin tambah.

Umat Muslim diminta mengeluarkan zakat fitrah sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri. Sesuai ajaran Rasulullah SAW, seorang Muslim hendaknya mengeluarkan zakat fitrah sebelum sholatuntuk menggembirakan fakir miskin dan orang yang membutuhkan pada hari Id tersebut.

Dalam HR Bukhari-Muslim, diriwayatkan Rasulullah SAW memerintahkan umatnya mengeluarkan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk shalat. Pada hari raya Idul Fitri, hendaknya setiap Muslim bergegas menuju tempat dilakukannya shalat Id. Muslimah juga dianjurkan menuju tempat sholat walaupun dalam keadaan haid. Dengan begitu, mereka mendapat kemuliaan hari raya serta merasakan kebahagiaan bersama orang lain.

Keluar berjalan kaki untuk sholat termasuk sunnah. Hal ini juga dilakukan Nabi SAW saat keluar pada dua hari raya dengan berjalan kaki. Sholat dilaksanakan tanpa azan dan iqamat, dan pulang berjalan kaki melalui jalan lain.  (HR Ibnu Majah).

Berikutnya, selama perjalanan menuju tempat shalat disunnahkan bertakbir dengan suara keras. Bertakbir mulai keluar rumah sampai tempat sholat menjadi bagian dari syiar Islam.

Bersalaman dan saling mengucapkan selamat di antara orang yang sholat akan membahagiakan jiwa yang merasa gembira pada hari itu. Bisa pula sambil mengucapkan, "Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian."

Bergembira dengan datangnya Syawal memang tidak terhindarkan. Puasa ramadhan memang dirasa cukup melelahkan. Bahkan bagi sebagian muslim ada yang merasa puasa ramadhan sebagai kondisi yang merepotkan. Namun sebagai suatu kewajiban, puasa ramadhan harus tetap ditunaikan bagi setiap muslim yang memenuhi syarat. Demikianlah, ketika puasa ramadhan selesai, maka tanggal 1 syawal menjadi hari yang dirasa patut dirayakan.

Tidak ada yang salah dengan merayakan datangnya Hari Raya Idul Fitri. Karena memang sebetulnya Idul Fitri merupakan hari bahagia. Bahkan Rasulullah SAW pun bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari dua hari raya itu; idul fitri dan idul adha.” (HR Ahmad no: 12006 dan yang lainnya).

Ibnul A’rabi, sebagaimana dalam Al Lisan, berkata, “Hari 'ied disebut 'ied karena ia senantiasa kembali setiap tahun dengan kebahagiaan yang baru.” (dinukil dari Syarh Umdah al Fiqh, hal. 309)

Hari raya memang seharusnya dimaknai oleh kaum muslimin sebagai bentuk suka cita karena keutamaan dan karunia Allah, sublimasi dari kebahagiaan karena taat dan ibadah, rasa syukur yang seutuhnya karena takwa dan amal saleh.

Namun tidak pelak, pemaknaan hari raya yang penuh kebahagiaan ini pun mengalami beberapa pergeseran makna. Ada yang kemudian menjadikan hari-hari setelah ramadhan sebagai hari “balas dendam” karena satu bulan lamanya dikekang dan menahan nafsunya. Ada yang mengonsumsi makanan dan minuman secara berlebihan. Ada juga menganggap hari setelah ramadhan adalah hari kebebasan. Ada juga yang menyebut Idul Fitri sebagai “Kemenangan Besar.”

Tepatkah pengenaan istilah "kemenangan besar" pada Hari Idul Fitri?

Bulan syawal yang merupakan bulan ke-10 dalam penanggalan atau kalender hijriah Islam, memiliki arti naik, ringan atau membawa (mengandung). Bulan syawal merupakan bulan di mana umat Islam merasakan peningkatan keimanan dan amal ibadah setelah selama satu bulan digembleng di bulan ramadhan.

Dikatakan para ahli sejarah, dahulu para salafus shalihin mempersiapkan diri sejak lima bulan setengah sebelum masuknya ramadhan. Kemudian, lima bulan setengah pasca-ramadhan pun mereka selalu mengharapkan bertemu kembali dengan ramadhan dan selalu memohon agar ibadah ramadhan yang telah lalu diterima Allah SWT. Dengan cara demikian, mereka mampu mempertahankan suasana ramadhan bahkan kala melalui sebelas bulan sisanya.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita di hari-hari terakhir ramadhan, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Jabir Radhiyallahuanhu: "Ketika datang akhir malam bulan ramadhan, langit dan bumi, serta para malaikat menangis karena merupakan musibah bagi umat Nabi Muhammad SAW. Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, musibah apakah itu? Rasulullah menjawab: Lenyaplah bulan ramadhan karena sesungguhnya doa-doa di bulan ramadhan dikabulkan, dan sedekah diterima, kebaikan dilipat gandakan, dan azab ditolak."

Apabila makhluk-makhluk lain bersedih kala akan ditinggalkan ramadhan, lalu bagaimanakah Idul Fitri dapat dikatakan sebagai kemenangan besar? Bila para salafus shalihin masih terus merasakan suasana ramadhan hingga ramadhan tahun berikutnya, lalu seperti apakah yang disebut "kemenangan besar" tersebut?

Pada hakikatnya ramadhan merupakan bulan di mana umat Islam berlatih menjalankan berbagai ibadah, untuk mencapai derajat insan bertakwa, sebagaimana disifatkan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 183. Menurut HAMKA dalam tafsir Al Azhar, takwa berarti memelihara. Memelihara hubungan yang baik dengan Allah SWT. Memelihara perbuatan agar tidak melakukan yang tidak Allah ridai. Memelihara anggota badan tidak melakukan hal-hal yang Allah larang. Memelihara diri agar senantiasa menjalankan perintah Allah SWT.

Suatu ketika, Abu Hurairah ditanya oleh seseorang, ''Wahai Abu Hurairah, apakah yang dimaksud dengan takwa itu?'' Abu Hurairah tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi memberikan satu ilustrasi. ''Pernahkah engkau melewati suatu jalan dan engkau melihat jalan itu penuh dengan duri? Bagaimana tindakanmu untuk melewatinya?'' Orang itu menjawab, ''Apabila aku melihat duri, maka aku menghindarinya dan berjalan di tempat yang tidak ada durinya, atau aku langkahi duri-duri itu, atau aku mundur.'' Abu Hurairah cepat berkata, ''Itulah dia takwa!'' (HR Ibnu Abi Dunya).

Hasil dari perjalanan selama ramadhan, baru akan terlihat setelah ramadhan berakhir. Sejauh mana intensitas ibadah yang dilakukan selama ramadhan, tetap terjaga pasca-ramadhan. Ini merupakan salah satu indikasi keberhasilan seseorang melalui kawah candradimuka bulan suci ramadhan. Dengan demikian, mereka yang berhasil melalui ramadhan dengan menjadi insan bertakwalah yang benar-benar meraih kemenangan.

Semoga kita semua benar-benar menjadi orang yang meraih kemenangan.

Selamat Idul Fitri 1442 H.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Shiyamana wa shiyamakum. Kullu aam wa antum bi khair.

Add comment

Jl. Kali Abang Tengah, Perwira, Kec. Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jawa Barat 17122

Email : admin@smktarunabangsa.sch.id

Pengumuman

Kategori Berita

© 2021 SMK Taruna Bangsa Kota Bekasi. All Rights Reserved.