• Yeva Purnama, S.Pd.
  • Bahasa
  • 2021-08-03 11:57:20
MODEL PENGALAMAN BERBAHASA TERKONSENTRASI DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA

Membaca Pemahaman

Dalam membaca, sedikitnya ada enam kata yang harus dikenal yaitu ‘literasi’, ‘iliterasi’, ‘aliterasi’, ‘literat’, ‘iliterat’, dan aliterat’. Literasi ialah kemampuan membaca. Iliterasi berarti ketidakmampuan membaca. Aliterasi kerarti kekurangan sikap membaca. Literat adalah bentuk adjektiva yang berarti dapat menulis dan membaca dalam suatu bahasa. Iliterat adalah bentuk adjektiva yang berarti tidak bisa membaca. Aliterat merupakan bentuk adjektiva kata aliterasi (Harjasujana dan Damaianti, 2003: 31-32)

Kegiatan membaca merupakan kegiatan reseptif aktif. Reseptif artinya dengan membaca pembaca menerima berbagai informasi, ide, gagasan dan amanat yang ingin disampaikan penulis. Aktif artinya dalam kegiatan membaca pembaca melakukan kegiatan aktif menggunakan kemampuan visual dan kognitifnya untuk menafsirkan lambang-lambang yang dilihatnya sekaligus menginterpretasikannya sehingga isi bacaannya menjadi bermakna dan dapat dipahami.

Mengenai definisi membaca telah banyak dikemukakan oleh beberapa orang pakar membaca, dari berbagai sudut pandangnya masing-masing. Berikut ini beberapa definisi tentang membaca yang telah dikemukakan oleh para pakar tersebut.

Gillet dan Temple (dalam Harjasujana dan Damaianti, 2003: 6) berpendapat bahwa ‘reading is making sense of written language’. Membaca ialah memberi makna terhadap bahasa tulis.

 

Harjasujana (1997:4) mengemukakan bahwa membaca merupakan proses. Ketika seseorang melakukan kegiatan membaca, ketika itu pula terjadi proses membaca. Membaca bukanlah proses yang tunggal melainkan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi pada suatu perbuatan tunggal. Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan bertujuan, karena membaca dilakukan secara aktif.

Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan sebuah proses yang melibatkan kemampuan visual dan kemampuan kognisi. Kedua kemampuan ini diperlukan untuk memerikan lambang-lambang huruf agar dapat dipahami dan menjadi bermakna bagi pembaca.

Burns (Harjasujana dan Damaianti, 2003: 42-62) mengungkapkan bahwa ada delapan aspek yang terlibat dalam kegiatan membaca. Aspek-aspek tersebut, yaitu aspek sensori, persepsi, sekuensial, pengalaman, berpikir, belajar, berasosiasi, dan berafeksi.

Kecepatan membaca yang fleksibel merupakan kemampuan awal yang harus dimiliki siswa dalam kegiatan membaca. Dalam aspek ini siswa akan diukur kemampuan visualnya sebelum lebih jauh lagi diuji kemampuan kognisinya. Kecepatan membaca merupakan kemampuan minimal yang harus dikuasai siswa agar dapat berhasil dalam kegiatan membaca. Langkah ini menunjukkan bahwa siswa harus belajar dan belajar membaca secara perlahan tapi pasti untuk meraih hakikat membaca yang sesungguhnya.

Pemahaman adalah suatu proses mental yang merupakan perwujudan kegiatan kognisi. Kemampuan memahami tidak dapat dilihat, hanya dapat diuji. Kriteria pemahaman sebuah bacaan dapat diukur melalui pertanyaan gagasan pokok. Pemahaman terhadap gagasan pokok yang ada dalam sebuah teks bacaan merupakan inti dari kegiatan membaca.

Kegiatan pemahaman bacaan berkaitan dengan proses berpikir. Membaca bukan hanya proses melihat dan menyerap lambang-lambang visual saja, tapi juga merupakan sintesis faktor visual dan nonvisual.

Hingga saat ini terdapat beberapa definisi tentang membaca pemahaman, mulai  dari definisi yang sempit hingga yang luas. Turner (1995:145) memberi definisi bahwa pemahaman meliputi apa pun yang berhubungan dengan aktivitas membaca. Lebih jauh Turner mengungkapkan bahwa seseorang dikategorikan pembaca aktif apabila pembaca tersebut membawa pengetahuan dan pengalamannya ke dalam aktivitas membaca untuk membuat kesimpulan dan menerapkannya ke dalam kehidupannya.

Menurut Thorndike (Whitehead, 1996:24) membaca pemahaman adalah memahami sebuah bacaan yang sama halnya dengan memecahkan persoalan dalam matematika. Gates dalam Richardson (1995:65) mengungkapkan bahwa membaca pemahaman merupakan suatu proses berpikir yang lengkap, tetapi memberikan suatu gambaran yang sangat terbatas.

Selanjutnya Anderson dan Pearson (1984:255) mengungkapkan bahwa membaca pemahaman merupakan suatu proses berpikir yang spesipik. Pembaca mendapatkan pemahaman dengan mengkonstruksi dengan aktif sebuah arti secara mendalam melalui interaksi dari sesuatu yang dibacanya.

Robinson (1966) (dalam Turner, 1995:146) berpendapat bahwa membaca pemahaman adalah mengerti dengan jelas apa yang dibaca, arti secara harfiah, maupun arti yang tidak tersirat, serta kemungkinan lain yang dimaksudkan penulis.

Turner mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi membaca pemahaman, yaitu (1) kepribadian, (2) motivasi, (3) kebiasaan, dan (4) lingkungan di

 

luar sekolah. Selain itu, Turner pun mengungkapkan bahwa kecepatan membaca pun mungkin saja dapat mempengaruhi terhadap pemahaman. Membaca pemahaman yang baik memerlukan kecepatan membaca yang fleksibel. Belum ada hasil penelitian yang mengutarakan bahwa pembaca yang memiliki kecepatan membaca yang cepat pemahaman terhadap bacaannya kurang baik dibandingkan dengan pembaca yang memiliki kecepatan membaca yang lebih lambat.

Beberapa penelitian tentang aspek-aspek keterampilan dalam membaca pemahaman telah berkembang. Salah satunya adalah ragam keterampilan membaca pemahaman hasil Frederick B Davis. Davis (1968) dalam Turner (1995:148) mengidentifikasi delapan keterampilan membaca pemahaman melalui sebuah prosedur analisis faktor (analisis faktor merupakan suatu prosedur statistik yang digunakan untuk mengidentifikasi komponen unik dari suatu kompetensi):

  1. mengingat arti kata;
  2. menyimpulkan arti sebuah kata dari suatu konteks;
  3. mencari jawaban untuk menjawab pertanyaan secara eksplisit atau hanya menjawab isi sebuah parafrase;
  4. menyusun bersama sebuah gagasan;
  5. membuat suatu kesimpulan bacaan;
  6. mengenal maksud, sikap, nada, dan kemauan penulis;
  7. mengidentifikasi teknik penulis; dan
  8. mengikuti struktur sebuah pola.

Lebih sederhana lagi dikemukakan oleh Spearit (1972) tentang keterampilan dalam pemahaman sebagai berikut.

  1. mengingat arti kata;
  2. menyimpulkan;
  3. mengenal maksud, sikap, nada, dan kemauan penulis; dan
  4. mengikuti struktur sebuah pola.

Berbagai hasil penelitian tentang aspek-aspek dalam membaca pemahaman telah berkembang dari masa ke masa. Menurut Pearson dan Johnson (1978) (dalam Turner (1995:149) sederetan aspek-aspek tersebut hanya membingungkan pembelajaran membaca. Namun demikian, pemikiran-pemikiran tentang aspek-aspek tersebut terus berkembang.

Upaya untuk menamakan dan mengklasifikasikan aspek-aspek pemahaman  tersebut disebut taksonomi aspek pemahaman. Salah satunya yang diketahui sebagai taksonomi pemahaman yang terbaik menurut Turner adalah Taksonomi Barret (Turner, 1994:150). Taksonomi Barret tersebut yaitu (1) literal, (2) inferensial, dan (3) evaluasi. Selain Taksonomi Barret, dikenal pula taksonomi yang tidak kalah terkenalnya dari Benyamin S. Bloom (1956) (dalam Harjasujana dan Mulyati, 1997:81) yang menyarankan tiga ranah dalam penilaian pendidikan dan pengajaran, termasuk pendidikan dan pengajaran membaca. Ketiga ranah tersebut dikenal dengan Taksonomi Bloom, yang meliputi ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor.

Dalam kegiatan membaca terdapat dua komponen utama yang terlibat yaitu indera penglihatan untuk melihat lambang-lambang huruf, sehingga diperoleh kecepatan rata- rata membaca dan kemampuan kognitif untuk memahaminya.

Perpaduan antara kecepatan membaca dan kemampuan membaca inilah yang oleh beberapa kalangan ahli membaca disebut dengan kecepatan efektif membaca atau disingkat KEM.

 

Harjasujana dan Mulyati (1997:56) mengemukakan pendapatnya bahwa yang disebut dengan kecepatan efektif membaca (KEM) ialah perpaduan dari kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. Dengan kata lain, KEM merupakan perpaduan kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan. KEM merupakan cerminan dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. Kemampuan membaca disini mengandung pengertian sebagai paduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi, kemampuan yang sudah mempertimbangkan kecepatan rata-rata baca berikut ketepatan memahami isi bacaan yang dibacanya.

 

Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi

Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) pertama kali diterapkan di tempat-tempat terpencil di Australia yang ditujukan untuk pendidikan anak-anak suku Aborigin pada tahun 1980. Keberhasilan penerapan model ini di Australia mendorong Richard Walker dan Rotarian Saowalak Rattanavich serta Noraseth Pathmanand untuk membuat suatu pilot proyek di daerah terpencil di Thailand. Penerapan model ini dilatarbelakangi oleh kegagalan pembelajaran dengan menggunakan model tradisional.

Model Pembelajaran Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) adalah model belajar yang “membenamkan” siswa dalam berbahasa yang terkait dengan kegiatan-kegiatan baru dalam kegiatan kelompok, mulai dari yang sederhana sampai pada kegiatan yang sulit. (Taroepratjeka, 2002: 1). Hal senada diungkapkan oleh Nusyirwan (2003) bahwa PBT merupakan suatu model yang melibatkan murid dalam belajar bahasa secara berkelompok dengan menggunakan metode ‘scaffolding’ (berjenjang), guru memberi contoh dan menuntun, sambil mendorong siswa untuk mampu mengembangkannya sendiri.

Setiap bahasa yang dihasilkan merupakan pengalaman dari sebuah kegiatan. Setiap hal yang dikerjakan atau diucapkan akan ditulis oleh setiap siswa. Dengan cara seperti ini setiap siswa akan mempelajari bahasa dengan jalan pikirannya masing-masing, sehingga pada saatnya mereka akan mampu mengkomunikasikannya baik secara lisan maupun tulisan. Cara seperti ini membimbing mereka untuk memahami semua yang mereka baca dan mereka tulis. Mereka dibimbing untuk mengembangkan cara yang efektif untuk mengenali dan menuliskan kaka-kata baru.

Selanjutnya mereka mengembangkan kemampuan untuk menyatakan sesuatu, meningkatkan kepercayaan diri, berpikir kreatif, menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain, serta mampu bekerja secara kelompok. Selain itu, siswa juga diarahkan untuk meningkatkan konsentrasi dan motivasinya.

Dalam pengajaran PBT ini, guru diharapkan sabar membimbing siswa mengembangkan kemampuannya untuk mengungkapkan sesuatu, meningkatkan kepercayaan dirinya, berpikir kreatif, menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain, serta mampu bekerja secara kelompok. Selain itu, guru pun dituntut kesabarannya menghadapi siswa yang kurang percaya diri, harus memberikan dorongan supaya siswa mau terlibat, sekalipun pada awalnya, siswa tidak mau bicara (Nusyirwan, 2003).

Taroepratjeka (2002:3) menyatakan bahwa model PBT dikembangkan berdasarkan pada prinsip-prinsip

  1. PBT merupakan model yang mengarahkan siswa dalam kegiatan berbahasa terkait dengan kegiatan-kegiatan baru secara berkelompok mulai dari kegiatan sederhana dan makin lama makin sulit;

 

  1. pengajaran dengan PBT adalah berjenjang (scaffolding). Apa yang diharapkan dilakukan oleh siswa terlebih dahulu diberi contoh oleh guru, kemudian contoh maupun bimbingan dari guru sedikit demi sedikit dikurangi, apabila siswa makin mampu melakukan dan memilih sendiri apa yang akan mereka lakukan;
  2. setiap belajar bahasa merupakan pengalaman dari setiap kegiatan yang dilakukan. Apa yang dikatakan atau ditulis, dikaitkan dengan apa yang sedang terjadi di lingkungannya. Dengan demikian siswa akan dapat memahami apa mereka baca atau lakukan, serta memahami apa yang diharapkan dapat mereka lakukan, selanjutnya mereka juga dibantu untuk mengerti apa arti kata yang mereka ucapkan atau mereka tulis, dari gerakan, roman muka, serta nada suara dari guru atau temannya; dan
  3. belajar bahasa melalui jalan pikiran untuk mengkomunikasikannya dalam ucapan dan tulisan.

Berdasarkan rumpun model pembelajaran, model PBT dalam penelitian ini dapat dimasukkan ke dalam rumpun model behavioral (behavioral model). Hal ini berdasarkan asumsi penulis bahwa berdasarkan prinsip-prinsip dan konsep dasarnya, model PBT memiliki karaktristik yang relatif sama utamanya dengan model pembelajaran pembelajaran berkelompok/bergugus dan model pembelajaran trprogram. Model kedua PBT yang diterapkan dalam penelitian ini diadopsi dari pendapat Sisavanh (1997: 4).

 

Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi dalam Pembelajaran Membaca

Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (PBT) memiliki lima fase, yaitu: 1) menganalisis jenis bacaan, 2) menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi,

3) mendiskusikan isi bacaan, 4) menganalisis dengan kritis sebuah teks baru, dan 5) aktivitas bahasa dan elaborasi. Untuk lebih jelasnya, berikut diuraikan langkah-langkah tersebut.

 

  1. Tahap kesatu, menganalisis jenis bacaan.

Pada tahap ini diawali dengan kegiatan mengukur kecepatan membaca siswa dengan cara guru membimbing untuk membaca wacana bersama-sama dan mencatat lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah wacana.

Setelah kecepatan rata-rata bacanya diketahui, siswa diarahkan untuk membaca sebuah bacaan, kemudian dibimbing untuk menganalisis jenis bacaan secara berkelompok. Pada tahap ini siswa membaca bersama-sama, diusahakan agar siswa mengerti dengan baik isi bacaan secara keseluruhan seperti mengamati ilustrasi wacana (bila ada), rangkaian kejadian dalam wacana, tokoh dalam wacana, karakteristik tokoh, dan sebagainya.

Pada tahap ini guru dituntut bersabar dalam membimbing siswa yang kurang mempunyai rasa percaya diri. Arahkan siswa untuk mau melibatkan diri, bahkan bila mereka tidak mau membaca, tungguilah siswa tersebut sampai rasa percaya dirinya berkembang hingga siswa mau bergabung dalam kegiatan membaca dan berdiskusi. Tujuan akhir dari tahap ini adalah siswa dapat menentukan jenis bacaan yang dibacanya.

 

  1. Tahap kedua, menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi.

Pada tahap ini, siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuan membacanya secara kreatif dan menghubungkan isi teks dengan pengalaman pribadinya. Kegiatan

 

pengembangan kemampuan membaca dapat dilakukan dengan dua kegiatan yaitu peningkatan kemampuan visual siswa dan kemampuan kognitif siswa.

Pada tahap ini siswa dilatih agar mempunyai kemampuan visual yang sesuai dengan batas kemampuannya dengan cara mencatat lamanya waktu setiap kali menyelesaikan kegiatan membaca sebuah wacana. Kegiatan pengembangan kemampuan kognitif siswa dilaksanakan dengan cara menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadinya.

 

  1. Tahap ketiga, mendiskusikan isi bacaan.

Pada tahap ini, siswa merundingkan isi teks secara berkelompok. Dalam kelompok tersebut siswa diharapkan terlibat semuanya untuk dapat mengemukakan pendapatnya. Guru harus dengan sabar dan cermat mengamati jalannya diskusi sehingga siswa yang tidak mempunyai motivasi untuk terlibat akhirnya mau terlibat dengan rekan-rekannya.

 

  1. Tahap keempat, menganalisis dengan kritis sebuah teks baru.

Pada tahap ini siswa menganalisis dengan kritis sebuah teks baru secara berkelompok kemudian menjawab soal-soal yang telah dipersiapkan pada teks. Pada tahap ini siswa diharapkan berpikir secara kritis dalam menganalisis bacaan.

 

  1. Tahap kelima, aktivitas bahasa dan elaborasi.

Siswa melakukan aktivitas berbahasa dan elaborasi dari hasil kegiatan membacanya. Pada tahap ini siswa diharapkan dapat menceritakan kembali isi bacaan sebagai hasil kegiatan membacanya. Selain itu, pada tahap ini siswa dapat diarahkan untuk menemukan arti kata-kata yang sulit dalam wacana kemudian siswa diharapkan dapat membuat kalimat menggunakan kata-kata yang sulit tersebut.

Bentuk kegiatan elaborasi bahasa tersebut ada dua, yaitu pembuatan catatan analogi dan PQ4R (preview, question, read, reflect, recite, dan review). Pembuatan catatan adalah strategi belajar yang menggabungkan antara informasi yang dimiliki sebelumnya dengan informasi baru yang diperoleh melalui proses mencatat. Dengan mencatat siswa dapat menuangkan ide baru dari perpaduan informasi, sedangkan analogi adalah cara belajar dengan pembandingan yang dibuat untuk menunjukkan persamaan antara ciri pokok benda atau ide.

PQ4R merupakan strategi yang digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca. Kegiatan yang dilakukan di antaranya membaca selintas dengan cepat, merefleksi, menanyakan pada diri sendiri, dan mengulang secara menyeluruh. Startegi elaborasi merupakan proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna. Dalam strategi elaborasi dikenal pula bentuk kegiatan pembuatan catatan.

 

Penutup

Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi diharapkan dapat dijadikan alternatif dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca. Pembelajaran menggunakan model tersebut dilakukan melalui lima fase, yaitu menganalisis jenis bacaan, menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi, mendiskusikan isi bacaan, menganalisis dengan kritis sebuah teks baru, dan aktivitas bahasa dan elaborasi.

Salah satu implikasi dari penerapan model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi adalah meningkatnya kemampuan membaca.

 

Sumber : http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_DAERAH/197810202003121-HERNAWAN/ARTIKEL_DALAM_BUKU_BAHASA_DAN_SASTRA_INDONESIA_DI_TENGAH_ARUS_GLOBAL.pdf

Add comment

Jl.Lingkar Utara Bekasi Kel. Perwira Kec. Bekasi Utara (sebelah BSI Kaliabang) Raya Bekasi KM.27 Pondok Ungu

Email : admin@smktarunabangsa.sch.id

Pengumuman

Kategori Berita

© 2022 Yayasan Pendidikan Nasional Taruna Bangsa. All Rights Reserved.