• administrator
  • Umum
  • 2021-02-22 11:01:01
PENGERTIAN DAN TUJUAN BIMBINGAN BELAJAR SERTA RAGAM MASALAH BELAJAR DAN FAKTOR PENYEBABNYA


Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah tentunya tidak selalu berjalan dengan lancar. Terdapat beberapa masalah yang ada dalam penyelenggaraan pendidikan baik yang dialami pendidik maupun peserta didik. Adakalanya mereka menghadapi berbagai kesulitan atau hambatan, seperti prestasi belajar yang rendah, kurang atau tidak adanya motivasi belajar, lambatnya dalam belajar, berkebiasaan kurang baik dalam belajar, sikap yang kurang baik terhadap pelajaran, guru ataupun terhadap sekolah. Selain adanya masalah dalam belajar, dalam proses pendidikan juga dapat dipengaruhi oleh adanya beberapa faktor yaitu dari faktor dalam diri hingga dari luar dirinya. Kedua faktor tersebut sangat berpengaruh bagi motivasi peserta diik dalam belajar. Faktor-faktor tersebut juga berjalan beriringan dalam bekerja pada diri peserta didik guna mencapa keberhasilan dalam belajar. (Thahir & Hidriyanti, 2014)
Keberhasilan peserta didik dalam menyelesaikan Pendidikan dapat dilihat dari prestasi belajarnya, maka prestasi belajar adalah suatu tolak ukur tentang hasil Pendidikan dalam sekolah. Mengingat prestasi belajar adalah salah satu tolak ukur keberhasilan belajar peserta didik, maka prestasi belajar penting untuk ditingkatkan. Bimbingan yang paling tepat untuk dipilih dalam meningkatkan prestasi belajar adalah bimbingan belajar. (Andayani, Sulastri, & Sedanayasa, 2014)

PEMBAHASAN PENGERTIAN BIMBINGAN BELAJAR
Guru BK merupakan sahabat para peserta didik di sekolah dan juga guru juga ditugaskan untuk mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan perkembangannya dan membantu mewujudkan tujuan pendidikan yang diharapkan. Tujuan pendidikan tersebut dapat diwujudkan melalui penyuluhan yang intensif, efektif, efisien dan berkelanjutan. (Nurhasanah & Nida, 2016)
Dalam menjalani proses belajar peserta didik, memerlukan bantuan dan bimbingan orang lain. Disadari maupun tidak dalam kenyataannya para guru di dalam semua pengajaran yang diberikan secara efektif tersirat beberapa bentuk bimbingan yang membantu peserta didik untuk mengatasi kesulitannya dalam berhitung, menunjukkan kepada peserta didik cara-cara memperbaiki penyelesaian dan membaca kembali tugas pelajarannya, menasihati peserta didik agar berlaku hormat dan ramah kepada orang lain adalah merupakan kegiatan atau perbuatan bimbingan. Salah satu bentuk bimbingan tersebut yaitu bimbingan belajar. (Thahir & Hidriyanti, 2014)
Bimbingan belajar sering disebut dengan bimbingan akademik. Bimbingan akademik dapat dilakukan dengan cara meningkatkan suasana belajar mengajar agar terhindar dari kesulitan belajar. Tugas konselor dalam hal ini yaitu membantu individu mengatasi agar sukses dalam belajar dan meraih prestasi dan agar mampu menyesuaikan diri terhadap semua tuntutan program. (Susanto, 2018, hlm 47-48)
Bimbingan belajar merupakan proses bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam tatanan pendidikan sekolah yang berhubungan dengan kebutuhan, minat, serta membantu peserta didik meningkatkan motivasi berprestasi peserta didik di sekolah. Dari pengertian tersebut, diketahui aspek-aspek bimbingan belajar untuk peserta didik, yang meliputi (1) Memahaman tentang diri, terutama mengenai sikap, minat, bakat, dan kebiasaan dalam belajar dan disertai dengan usaha-usaha untuk perkembangannya secara spesifik kedisiplinan dan tanggung jawab. (2) Pengembangan kemampuan motivasi berprestasi baik dengan guru, keluarga, teman, maupun masyarakat. (3) Pengembangan Teknik penguasaan materi pelajaran dan pemahaman mengenai orientasi pendidikan yang akan dipilih. (4) Pengembangan pengetahuan dan pemahaman mengenai orientasi pendidikan lanjutan dan hidup berkeluarga dan bermasyarakat. (Susanto, 2018, hlm 48)

TUJUAN BIMBINGAN BELAJAR
Program kegiatan bimbingan belajar yang dirumuskan bagi peserta didik bertujuan untuk membantu peserta didik dalam meningkatkan motivasi berprestasi. Program yang disusun secara baik dan matang memberikan banyak keuntungan bagi peserta didik yang mendapatkan layanan ataupun bagi guru pembimbing yang akan melaksanakan. Keuntungannya yaitu memberikan kesempatan bagi peserta didik yang satu dengan yang lainnya dalam mendapatkan bimbingan secara seimbang, baik dalam kesempatan maupun jenis layanan.  (Susanto, 2018, hlm 48)
secara umum, tujuan bimbingan belajar menurut Muhibin Syah (2004:23) yaitu untuk tercapainya penyesuaian akademis secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki peserta didik. Adapun secara khusus, tujuan bimbingan belajar, yaitu peserta didik dapat memahami dirinya, dapat memiliki keterampilan belajar, mampu memecahkan masalah belajar, terciptanya suasana belajar yang kondusif bagi peserta didik, dan peserta didik memahami lingkungan pendidikan. (Susanto, 2018, hlm 48-49)

RAGAM MASALAH BELAJAR
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh peserta didik dan menghambat kelancran proses belajaranya. Kondisi tersebut dapat berkenaan dengan dirinya yaitu kelemahan-kelemahan yang dimilikinya maupun berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkannya. Masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh peserta didik yang lambat dalam belajar, akan tetapi juga dialami oleh peserta didik yang pandai atau cerdas. (Budiarti, 2017, hlm 41)
Berikut merupakan beberapa jenis masalah belajar yang dapat terjadi pada seorang peserta didik, yaitu meliputi:
Keterlambatan akademik, yaitu keadaan peserta didik yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkannya secara optimal.
Ketercepatan dalam belajar, yaitu keadaan peserta didik yang mempunyai bakat akademik yang cukup tinggi atau memiliki IQ 130 atau lebih, tetapi masih membutuhkan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi.
Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan peserta didik yang mempunyai bakat akademik yang kurang memadai atau memerlukan pertimbangan untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran khusus.
Kurangnya motivasi belajar, yaitu keadaan peserta didik yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seolah-olah tampak jera dan malas.
Bersikap dan kebiasaan buruk dalam belajar, merupakan kondisi peserta didik yang kegiatannya atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistic dengan seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ngulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya terhadap hal-hal yang tidak diketahuinya.
Sering tidak sekolah, merupakan peserta didik yang sering tidak hadir atau sakit dalam jangka yang Panjang sehingga kehilangan sebagian besar kegiatan belajaranya. (Budiarti, 2017, hlm 41-42)
Pada penilitian yang dilakukan oleh Elgi Syafni dkk. pada tahun 2013, yang berjudul "Masalah Belajar Siswa dan Penangananya" mengatakan bahwa dalam pembelajaran tida dapat dipisahkan dari masalah belajar yang berhubungan dengan keterapilan belajar. Keterampilan belaja meliputi keterampilan mengatur waktu belajar, membaca buku, menghafal pelajaran, mencatat, meringkas buku, belajar kelompok, mengingat, konsentrasi, dan daya tahan dalam belajar, menyelesaikan tugas sejolah dan persiapan ujian. Dalam penelitiannya ditemukan hasil berupa:
Pada keterampilan mengatur waktu belajar sebesar 44.6% tidak mampu mengatur waktu belajar dengan baik. Misalnya penggunaan waktu luang. Sebenarnya mereka bukan kekurangan waktu tetapi cara pengaturan waktulah yang tidak tepat.
Pada keterampilan membaca buku sebanyak 50% siswa tidak membaca semua isi dan tidak membaca beberapa bagian.
Pada keterampilan menghapal pelajaran sebesar 48,2% mengalami masalah dalam memahami Isi buku pelajaran yang dibaca. Jangan sampai ada kata, istilah, kalimat definisi, ungkapan, dalil, hukum, atau rumus yang tidak dapat di mengerti arti, makna, ataupun maksudnya.
Pada keterampilan meringkas buku yaitu sebesar 42,5% tidak mampu meringkas buku Pelajaran. Dalam penyimpulan materi pelajaran diperlukan pemahaman untuk mencari ide pokok dari ringkasan yang akan dibuat.
Pada keterampilan mengingat, konsentrasi, dan ketahanan dalam belajar yaitu sebesar 61,4% tidak mampu untuk mengingat, konsentrasi, dan ketahanan dalam belajar. Misalnya tidak dapat belajar dengan baik, yang disebabkan oleh perasaan gelisah, murung, dan pikiran yang kacau.
Pada keterampilan penyelesaian tugas sebesar 49,8% siswa tidak mampu menyelesaikan tugasnya tepat waktu, dan tugas dikumpulkan tidak dibuat kopiannya sebagai bahan untuk persiapkan ujian.
Dengan menggunkan bimbingan belajar masalah-masalah di atas dapat diatasi. Contohnya untuk mengatasi keterampilan penyelesaian tugas, konselor dapat menggunkan bimbingan belajar dalam bentuk bimbingan kelompok dengan cara pemberian penjelasan, kiat-kiat, dan memberi pengertian menganai pentingnya memiliki catatan guna persiapan untuk ujian.  (Syafni, Syukur, & Ibrahim, 2013, hlm 17)

FAKTOR PENYEBAB MASALAH BELAJAR
Secara garis besar, penyebab timbulnya masalah belajar peserta didik dapat dikelompokkan menjadi dua kategiru, yaitu meliputi:
Faktor-faktor internal yang berasal dari dalam diri peserta didik, yaitu gangguan fisik seperti kurang berfungsinya (organ-organ perasaana, alat bicara, gangguan panca indra, cacat tubuh atau kesehatan), ketidak seimbangan mental atau gangguan fungsi mental, kelemahan emosional, serta kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap yang salah.
Faktor-faktor eksternal atau faktor yang berasal dari luar diri peserta didik, yaitu (1) sekolah atara lain sifat kurikulum yang kurang fleksibel, beban belajar yang terlalu berat bagi peserta didik, metode mengajar yang kurang memadai, kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar. (2) keluarga atau rumah antara lain keluarga tidak utuh dan atau kurang harmonis, sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya dan keadaan ekonomi. (Budiarti, 2017, hlm 45-46)

KESIMPULAN
Bimbingan belajar merupakan proses bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam tatanan pendidikan sekolah yang berhubungan dengan kebutuhan, minat, serta membantu peserta didik meningkatkan motivasi berprestasi peserta didik di sekolah. Program kegiatan bimbingan belajar yang dirumuskan bagi peserta didik bertujuan untuk membantu peserta didik dalam meningkatkan motivasi berprestasi. secara khusus, tujuan bimbingan belajar, yaitu peserta didik dapat memahami dirinya, dapat memiliki keterampilan belajar, mampu memecahkan masalah belajar, terciptanya suasana belajar yang kondusif bagi peserta didik, dan peserta didik memahami lingkungan pendidikan.


DAFTAR PUSTAKA
Andayani, N. P., Sulastri, M., & Sedanayasa, G. 2014. Penerapan Layanan Bimbingan Belajar Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Bagi Siswa Yang Mengalami Kesulitan Belajar Siswa Kelas X4 SMA Negeri 1 Sukasada. e-Journal Undiksa Jurusan Bimbingan Konseling, 2.
Budiarti, M. 2017. Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar. Magetan: CV. AE MEDIA GRAFIKA.
Nurhasanah, & Nida, Q. 2016. Pembangunan Karakter Siswa Dengan Bantuan dan Bimbingan guru Melalui Bimbingan dan Layanan Bimbingan. Jurnal Multidisiplin Internasional, 65-76.
Susanto, A. 2018. Bimbingan dan Konseling di Sekolah (Konsep, Teori, dan Aplikasinya). Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP.
Syafni, E., Syukur, Y., & Ibrahim, I. 2013. Masalah Belajar Siswa dan Penanganannya. Jurnal Ilmiah Konseling, 2, 15-19.
Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya.
Thahir, A., & Hidriyanti, B. 2014. Pengaruh Bimbingan Belajar Terhadap Siswa Pondok Pesantren Madrasah Aliyah Al-Utrujiyah Kota Karang. Jurnal Bimbingan dan Konseling (E-Journal), 55-66.

 

 

 

Add comment

Jl. Kali Abang Tengah, Perwira, Kec. Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jawa Barat 17122

Email : admin@smktarunabangsa.sch.id

Pengumuman

Kategori Berita

© 2021 SMK Taruna Bangsa Kota Bekasi. All Rights Reserved.